09 Juni 2009

Selayang Pandang Tentang Komunikasi Audio Visual

Sebelum kita masuk ke dalam dunia Audio Visual,,alangkah lebih baik jika kita mengerti dan paham dahulu tentang apa itu Komunikasi. Pada dasarnya Komunikasi adalah proses interaksi atau penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Di dalam penyampaian komunikasi banyak sekali media yang bisa digunakan. Salah satunya adalah media Komunikasi Audio Visual.

Komunikasi Audio Visual ini menurut saya secara kasar bisa diartikan bahwa "berkomunikasi melalui media Audio Visual"
Tidak banyak orang yang mengetahui dan mengerti tentang dunia Komunikasi. Terutama Komunikasi Audio Visual. di bawah ini saya akan mencoba mengubek-ubek apa yang di namakan dengan komunikasi Audio Visual. Tetapi tentu saja sebatas kemampuan saya.. :p

Komunikasi Audio Visual banyak sekali jenis & macamnya. Bisa film,Music Video,Iklan,dsb.
Seperti yang tadi saya bilang bahwa tidak banyak yang tahu dan mengerti tentang apa itu komunikasi audio visual. Terutama tentang Film,Music Video,Iklan,dsb.


Film
Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi dengan
zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut selluloid. Dalam bidang fotografi
film ini menjadi media yang dominan digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya yang
tertangkap lensa. Pada generasi berikutnya fotografi bergeser pada penggunaan media
digital elektronik sebagai penyimpan gambar. Dalam bidang sinematografi perihal media
penyimpan ini telah mengalami perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal media
penyimpan selluloid (film), pita analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram,
memori chip). Bertolak dari pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya
sinematografi yang memenfaatkan media selluloid sebagai penyimpannya.
Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi,
maka pengertian film telah bergeser. Sebuah film cerita dapat diproduksi tanpa
menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film yang
menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap pasca produksi
gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat disimpan pada media
yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat disimpan Pada media selluloid,
analog maupun digital.
Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film
dari istilah yeng mengacu pada bahan ke istilah yeng mengacu pada bentuk karya seni
audio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang
menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.

Menurut Jenisnya:

1. Film Fiksi
Film fiksi adalah film yang biasanya dikenal sebagai film cerita. Seperti namanya, film fiksi ini hanyalah sebuah karangan belaka. Alias tidak kejadian sebenarnya. Dalam film fiksi biasanya berasal dari iamjinasi atau khayalan. Macam dari film fiksi ini banyak sekali. Bisa drama,action,animasi,dan masih banyak lagi.

2. Film Documenter
Sejarah Film Documenter
Dokumenter adalah sebutan yang diberikan untuk film pertama karya Lumiere
bersaudara yang berkisah tentang perjalanan (travelogues) yang dibuat sekitar tahun 1890-
an. Tiga puluh enam tahun kemudian, kata ‘dokumenter’ kembali digunakan oleh pembuat
film dan kritikus film asal Inggris John Grierson untuk film Moana (1926) karya Robert
Flaherty. Grierson berpendapat dokumenter merupakan cara kreatif merepresentasikan
realitas (Susan Hayward, Key Concept in Cinema Studies, 1996, hal 72). Sekalipun
Grierson mendapat tentangan dari berbagai pihak, pendapatnya tetap relevan sampai saat
ini. Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai
macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan
penyebaran informasi, pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu.
Intinya, film dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin.
Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari film dokumenter
misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama, terjadi reduksi realita demi tujuantujuan
estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak
antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam
dokudrama, realita tetap menjadi pegangan.
Kini dokumenter menjadi sebuah tren tersendiri dalam perfilman dunia. Para
pembuat film bisa bereksperimen dan belajar tentang banyak hal ketika terlibat dalam
produksi film dokumenter. Tak hanya itu, film dokumenter juga dapat membawa
keuntungan dalam jumlah yang cukup memuaskan. Ini bisa dilihat dari banyaknya film
dokumenter yang bisa kita saksikan melalui saluran televisi seperti program National
Geographic dan Animal Planet. Bahkan saluran televisi Discovery Channel pun mantap
menasbih diri sebagai saluran televisi yang hanya menayangkan program dokumenter
tentang keragaman alam dan budaya. Selain untuk konsumsi televisi, film dokumenter juga
lazim diikutsertakan dalam berbagai festival film di dalam dan luar negeri. Sampai akhir
penyelenggaraannya tahun 1992, Festival Film Indonesia (FFI) memiliki kategori untuk
penjurian jenis film dokumenter.
Di Indonesia, produksi film dokumenter untuk televisi dipelopori oleh stasiun
televisi pertama kita, Televisi Republik Indonesia (TVRI). Beragam film dokumenter
tentang kebudayaan, flora dan fauna Indonesia telah banyak dihasilkan TVRI. Memasuki
era televisi swasta tahun 1990, pembuatan film dokumenter untuk televisi tidak lagi
dimonopoli TVRI. Semua televisi swasta menayangkan program film dokumenter, baik
produksi sendiri maupun membelinya dari sejumlah rumah produksi. Salah satu gaya film
dokumenter yang banyak dikenal orang, salah satunya karena ditayangkan secara serentak
oleh lima stasiun swasta dan TVRI adalah Anak Seribu Pulau (Miles Production, 1995).
Dokudrama ini ternyata disukai oleh banyak kalangan sehingga sekitar enam tahun
kemudian program yang hampir sama dengan judul Pustaka Anak Nusantara (Yayasan
SET, 2001) diproduksi untuk konsumsi televisi. Dokudrama juga mengilhami para pembuat
film di Hollywood. Beberapa film terkenal juga mengambil gaya dokudrama seperti JFK
(tentang presiden Kenedy), Malcom X, dan Schindler’s List.

Sedangkan Film documenter itu sendiri adalah film yang menyajikan suatu kenyataan berdasarkan fakta obyektif yang memiliki nilai esensial dan eksistensial. artinya menyangkut kehidupan lingkungan hidup dan situasi nyata. Potrait,Feature,Profile,Biografi,Sejarah,Diary,Discovery,Rekonstruksi,Instruksional,Perjalanan adalah jenis-jenis film documenter.

3. Film Komunitas
Film Komunitas ini adalah jenis film baru. Yang di maksud baru di sini adalah,barudi kenalkan oleh sebuah komunitas. Film komunitas ini memiliki banyak nama lain. Seperti Video Partisipasi, Video Rakyat,Video Proposal,dsb. Namun pada dasarnya Film komunitas ini adalah film yang dihasilkan oleh komunitas atau masyarakat atau kelompok tertentu tentang hal-hal/isu-isu/permasalahan yang berhubungan dengan lingkungan "komunitas" tersebut baik untuk komunitas maupun pihak luar dengan tujuan tertentu. Film Komunitas ini biasanya bertujuan untuk perubahan sosial.

Menurut Durasi:

1. Film Pendek
Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak negara seperti
Jerman, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan juga Indonesia, film cerita pendek
dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang
untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh
para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin
berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang
mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok
ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.

2. Film Panjang
Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film
yang diputar di bioskop umumnya termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film, misalnya
Dances With Wolves, bahkan berdurasi lebih 120 menit. Film-film produksi India rata-rata
berdurasi hingga 180 menit. Film panjang ini juga termasuk di dalamnya film animasi.


Iklan (Commercial Break)
Film ini diproduksi untuk kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk
(iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat atau public service
announcement/PSA). Iklan produk biasanya menampilkan produk yang diiklankan secara
eksplisit, artinya ada stimulus audio-visual yang jelas tentang produk tersebut. Sedangkan
iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap
fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan
layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara implisit.


Video Klip (Music Video)
Video klip adalah sarana bagi produser music untuk memasarkan produknya lewat
medium televisi. Dipopulerkan pertama kali lewat saluran televisi MTV tahun 1981. Di
Indonesia, video klip ini sendiri kemudian berkembang sebagai bisnis yang mengiurkan
seiring dengan pertumbuhan televisi swasta. Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan
industri tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi bisnis
utama (core busines) mereka. Di Indonesia tak kurang dari 60 video klip diproduksi tiap
tahun.

5 komentar:

  1. kayaknya ini masih ada lanjutannya yah...

    kapan sesi ke-2 terbit neey...

    BalasHapus
  2. Dasar Pemalas..
    Nulis cuman satu, bersambung pisan..

    BalasHapus
  3. neh dah q lanjutin edisi ke duanya...
    selamat menikmati...
    semoga bermanfaat...
    (^_^)

    BalasHapus
  4. Waah Klo Baca Sebuah Artikel Ini mengingatkan Kembali akan suatu Masa Lalu...
    Dan juga Membangkitkan Gairah keinginan Untuk mnCiptakan sebuah Hasil Karya Film indie...:)
    Buat Sdra Uyab ....klo Bisa Lebih Dilengkapi sekalian... Or Materi2 Pelajaran dlu Dimasukin disini skalian juga Ga apa daahh Hahaha;)
    Succes Buat U...
    "Good Luck"

    BalasHapus
  5. aku tak tahu harus berkomentar apa... ayook bikin film.. hohoho

    BalasHapus